Punk di Indonesia

Berbekal etika DIY, beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.

CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya.

Punker dan Gaya. Suatu pagi terlihat segerombolan pemuda yang mengenakan pakaian serba hitam dan terlihat lusuh, berkumpul di pelataran Gedung Nasional Indonesia (GNI). Sebagian diantaranya kelompok yang rata-rata masih berusia belia tersebut terlihat dengan santai duduk dan bahkan ada yang tidur-tiduran di trotoar dan pelataran sekitar GNI. Sebagian besar mempunyai gaya rambut yang sangat tidak lazim, yaitu rambut kepala bagian samping ditipiskan dan bagian tengah yang panjang diberi bahan tertentu yang dapat membuat rambut berdiri yang ngetren disebut Mohawk. Rambut diikat menjadi beberapa bagian dan dibiarkan lusuh sehingga terlihat menjadi gimbal seperti gaya rambut legendaris musik Reggae dari Jamaika. Juga banyak sekali model rambut yang membuat orang awam terasa sangat aneh. Belum lagi pakaian yang dikenakan tampak sangat lusuh. Mereka mempunyai pandangan bahwa semakin lusuh pakaian yang mereka kenakan maka akan mempunyai kebanggaan tersendiri

Kumpulan remaja tersebut mengaku kumpulan aliran musik PUNK dan Black metal, yang pada awal September lalu mengadakan konser di GNI. Aliran musiknya juga terdengar sangat aneh dan kecenderungan sangar. Ini dapat dilihat dari nama kelompok band mereka antara lain Killhamonik, Immorrtal Rites, Pembual, dll. Selain itu aliran musik yang mereka usung juga keras, cepat, bergemuruh dan yang menjadi salah satu ciri khas yaitu vokalisnya selalu memutar kepala sehingga rambutnya yang panjang ikut berputar bak baling-baling pesawat

Para Punkers tersebut selain dari Kota Bandung juga berasal dari daerah lain seperti Malang, Nganjuk, Jombang, Surabaya, dan bahkan dari Jogjakarta. Biasanya mereka datang secara berkelompok dan sudah datang dua atau tiga hari sebelum konser dimulai. Biasanya untuk mengisi waktu biasanya mereka isi dengan mengamen di perempatan ataupun menjual stikers, maupun kaos

Perkmbangan musik Punk dan Black Metal di bandung sebenarnya sudah ada sejak lama sekitar tahun 90-an. Menurut Arief Punkers bandung biasa berkumpul di area taman fleksi dago. Saat ini jumlah Punkers yang ada di Kota Bandung kurang lebih sekitar sekitar 300 orang dan mayoritas anggotanya adalah pelajar.

Karena aliran dan gaya hidup yang dijalani para Punkers sangat aneh, keras dan selalu berpakaian lusuh, maka pandangan miring selalu ditujukan pada mereka. Padahal banyak diantara Punkers yang mempunyai kepedulian sosial yang sangat tinggi, seperti yang dituturkan Yogi salah satu Punkers yang biasa mangkal di sekitar taman fleksi. “Tidak semua Punkers selalu berbuat negatif, walaupun tidak memiliki struktur organisasi yang jelas seperti organisasi lain, teman- teman Punkers memiliki juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” kata Yogi. Hal ini dapat dinyatakan dengan memberikan bingkisan kepada anak- anak panti asuhan, berupa beras, pakaian pantas pakai, dll. Dan dana tersebut berasal dari iuran sukarela para Punkers dan keuntungan saat mengadakan sebuah konser. Jadi masih menurut Yogi, Punkers memang dekat dengan kekerasan dan kebebasan, tapi teman–teman Punkers juga memiliki jiwa sosial. Sebenarnya mereka masih mempunyai rencana yang mungkin akan segera dilaksanakan yaitu penghijauan. Dan ini juga membuktikan selain mempunyai kepedulian soial, mereka juga ingin berpartisipasi dalam pembangunan Kota bandung seperti kegiatan penghijauan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s